Tampilkan postingan dengan label Kisah muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah muslim. Tampilkan semua postingan

Kamu itu perempuan, kok ya mau ambil data di instalasi ini?
katanya, barangkali ia menangkap sosokku yang sesekali mencuri-curi waktu untuk sekedar duduk.
Kali ini aku hanya bisa tersenyum.
Capek kan? Kamu sih nekat, perempuan ambil data di instalasi ini. kok nggak mau di tempat lain aja yang adem, di sini kan panas. Memangnya kenapa mau ambil data PKL disini mbak?
Tambahnya lagi, barangkali ia pun melihat peluh di dahiku.
"Saya telah mengunjungi seluruh laboratorium dan instalasi di sini Pak. Sebelum saya memutuskan hal ini saya telah istikharah dulu ke Allah dan ternyata Insya Allah saya yakin dengan pilihan saya di Instalasi Meter Air ini" ujarku.

Sebenarnya, bukan cuman pembimbingku saja yang khawatir kalau aku tidak kuat untuk mengambil konsentrasi meter air, aku pun juga. Hampir tiap hari, saya harus berdiri dari pagi sampai sore untuk belajar melakukan pengujian meter air. Sepanjang hari udah belajar, saya masih saja kesusahan untuk menghidupkan pompa dan memasang meter air. Ya Rabbi! 

Berpikiran untuk mau pindah ke konsentrasi lain hampir sepanjang waktu terlintas. Mengingat betapa susahnya buat menghidupkan pompa dan mengatur alirannya, ternyata teori dasarnya susah, ternyata membaca penunjukkannya pun juga susah, mengingat betapa panasnya instalasi, dan cuman saya yang perempuan, hal-hal tersebut sudah masuk ke dalam daftar alasan mengapa saya harus pindah konsentrasi. Namun, hal itu kuurungkan, sebab begitu doang masa nggak kuat rum? Hei, semuanya punya tingkat kesusahan masing-masing! kuatlah! pecutanku kala itu.

Niat untuk pindah konsentrasi yang telah terkubur pun tiba-tiba bangkit, setelah saya menyadari cuman saya yang belum mengambil data PKL diantara teman-teman yang lain, dan 2 minggu lagi masa praktik kerja lapangan saya berakhir. Saya bingung sudah pasti, teman-teman yang lain sudah mengambil data dan sudah diolah. Lah, saya boro-boro diolah, ambil data aja belum! sudah 3 kali saya gagal dalam mengambil data. Pertama karena saya salah menentukan aliran, kedua karena ada gangguan pipa bocor sehingga data yang diperoleh tidak bagus, dan yang ketiga karena bingung dengan menggunakan sayarat teknis baru atau lama (nb: syarat teknis sebagai acuan dalam melakukan pengujian tera meter air). Dan saya makin terkejut lagi, mendengar kabar bahwa pembimbing saya akan melakukan dinas ke luar kota. Allah, kalau begitu saya kapan ambil datanya?

Saya kalut, saya bingung harus bertindak apalagi, saya hampir menyerah. Kalaupun ingin pindah konsentrasi, pindah ke mana? ditengah keputusasaan saya, saya kembali menemui Allah. segala gundah gulana dan keluh kesah ku hamparkan dalam setiap jengkal sajadah. 
"Allah, kala itu aku pernah meminta petunjuk-Mu tentang konsentrasi apa yang harus ku pilih untuk topik PKL saya sekaligus untuk penelitian Tugas Akhir, dan pilihan itu jatuh pada meter air. Ya Allah, hingga detik ini aku belum sama sekali mendapatkan data padahal sebentar lagi pkl akan berakhir. Ya Rabb, aku bingung harus berbuat apa. jika memang meter air adalah pilihan yang tepat untukku, Maka mudahkan segala urusannya Ya Allah"

Aku hafal betul, kala itu 23 Agustus 2017 seminggu sebelum pklku berakhir. Ya, tanggal itu merupakan tanggal aku melakukan pengambilan data! Aku dapat mengambil data karena pembimbingku menghubungi pihak ketua instalasi untuk meminjamkan test bench untuk aku melakukan pengambilan data. Masya Allah Alhamdulillah. Dan yang tak kalah membuatku bersyukur adalah padahal aku yang meminjam alatnya, eh tapi pihak instalasi malah mentraktirku makan siang.  Ya Allah Alhamdulillah makan gratis *eh  hehe!

Kini saya tersadar, setelah hari berganti, dan waktu semakin bergulir. ternyata rencana Allah itu hebat yah. waktu itu saya yang tidak bersabar, dan merasa sedih karena tidak sesuai dengan rencana saya, saya yang  seringkali mengumpat ungkapan kekecewaan dan keluhan yang meluncur dari lisan, beranggapan kenapa hanya saya saja yang mengalami hal ini sedangkan teman-teman yang lain tidak?Allah maafkan!. Padahal, tanpa saya sadari ada terselip makna dan hikmah mengapa Allah menunda saya untuk melakukan pengambilan data? Allah menginginkan saya untuk belajar lagi, sehingga saya dinobatkan menjadi presentasi terbaik waktu PKL di sana. karena saya belajar lebih lama lagi, saya malah menemukan topik penelitian untuk tugas akhir saya. Belum tentu saya mendapat hal itu jika pengambilan data saya tidak ditunda. Allah Engkau Sungguh Maha Baik Sekali!

Barangkali sesuatu ditunda karena hendak disempurnakan; dibatalkan karena hendak diganti yang utama; ditolak karena dinanti yang lebih baik - Salim A. Fillah

Begitu banyak hal yang terjadi dalam hidup, misalnya hal yang menimpa kita adalah hal yang menyakitkan dan yang tidak kita sukai, tidak sesuai dengan yang diharapkan, usaha dan ikhtiar pun telah kita maksimalkan tapi apa daya hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang direncanakan. Kecewa, sedih? ah sudah pasti. Tapi sadarlah bahwa Allah lebih mengetahui skenario yang terbaik bagi hamba-Nya. Yang skenario itu mungkin tidak akan bisa dijangkau oleh akal pikiran kita, dan baru tersadar ketika hari telah berganti, waktu telah berlalu, ternyata hal yang terjadi pada kita mengandung berbagai hikmah yang luar biasa, dan ternyata kita baru sadar bahwa itulah yang terbaik untuk kita.

Bukankah Allah lebih mengetahui dibanding kita?

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Jadi, tetap berbaik sangka kepada Allah ya!


Arum Melati Suci, 
-yang baru kelar sidang tugas akhir (iya topiknya meter air juga hehe)

           

           Bayangkan bagaimana rasanya ketika hanya selembar uang yang dipunya tiba-tiba lenyap alias hilang? Panik tentu pasti. Ditambah lagi selembar uang itu digunakan untuk ongkos berangkat ke kampus. Panik, bingung dan segala perasaan campur adukku kala Senin pagi sebelum berangkat ke kampus. Yah bagaimana tidak hanya modal atm yang dipunya dan ironisnya tidak ada bank di dekat rumah. waktu jalan ke halte aku merapal doa.."semoga ada bank dekat halte. Semoga.. semoga ya Allah". Dan ternyata ratusan meter dari halte berdiri sebuah bank. Alhamdulillah, lega sekali rasanya..

            Sepanjang jalan aku berpikir kok bisa ya uangku tiba-tiba hilang. Apa lupa naruhnya, jatoh di jalan, apa ternyata bukan hilang tapi emang beneran nggak ada didompet. Tapi seingatku ada kok beneran uangnya didompet. Hingga tiba-tiba pikiran selintasku yang membuat batinku menohok. Apa jangan-jangan kamunya aja rum yang jarang sedekah. Sehingga Allah “memaksa” menyedekahkan uangmu dengan cara itu. Jleb!

            Sungguh, aku yang jarang sedekah itu memang ada benarnya. Uang kiriman dari bapak-ibu kebanyakan dikeluarkan untuk keperluanku. Selebihnya, jika ada sisa uang disimpan. Duh, lagi-lagi aku terlupa bahwa harta yang dimiliki juga terdapat hak orang lain yang membutuhkan. Sering terlupa pula bahwa uang, harta benda, kekayaan pun dunia dan seluruh semesta ini milik Allah. Maka bisa saja sewaktu-waktu Allah ambil.

            Hari itu, aku tak sengaja juga melihat campaign donasi penggalangan dana untuk korban Rohingya di kitabisa.com yang digagas oleh Muzammil Hasballah. Sejenak aku berpikir apa aku ikut donasi itu ya? Tapi kalau semisal uangku kepotong dan habis, dan aku. Ah! Segala macam pikiran liar dan tapi-tapi yang lain segera ku tepis. Ayok dong buktiin rum kalau Tuhanmu itu Allah bukan uang. Jika uangmu habis, tentunya kau tidak perlu risau bukan? kau kan masih punya Allah. Sang Pemilik Semesta ini. Jadi, kenapa harus ragu?. Bismillah! dengan membulatkan tekad aku keluar dari zona nyamanku. Ikut dalam kegiatan donasi itu.

            Beberapa hari setelah menyumbangkan uang untuk donasi aku jadi deg-degan. Jujur. Soalnya, uang yang kudonasikan adalah jatah uang untuk keperluan makan. Nantinya makan apa ya kalau uangnya beneran habis, gimana buat ongkos kuliah. Dan gimana-gimananya yang lain. Huh, aku menghembuskan nafas dalam-dalam. Yakin rum! Yakin! kalau Allah telah menjamin setiap rezeki manusia. Percaya deh nggak usah khawatir! Kalau soal nggak ada duit buat makan ya tinggal puasa aja!. Kataku menyemangati diri sendiri.

           Sepekan kemudian. aku hafal betul waktu itu hari Minggu. Hari itu aku dibuat heran karena saudaraku yang bekerja dan tinggal di Papua tiba-tiba saja mengunjungiku. Iya aku terheran, untuk bertemu dengannya saja hanya pas momen lebaran idul fitri sekali dalam setahun. pun kalau dianya pulang ke Jogja, kalau dia tidak pulang? ya tidak ketemu. Ini tidak ada hujan tidak ada angin dia datang menjengukku. Dan yang membuatku makin terheran lagi sekaligus terpana adalah saudaraku datang dengan membawa seplastik besar makanan dan oleh-oleh, juga amplop yang berisikan uang untukku! Ya Allah Ya Rabbi...

            Pada detik itu aku sungguh terpana sekaligus haru. Bagaimana tidak? aku yang niat sedekahnya masih mencoba ikhlas, aku yang masih mengumpulkan kekuatan untuk menepis segala keraguan yang acapkali singgah. Aku yang shalat dhuhanya yang kadang hari itu iya, kadang tidak. Masih sesempatnya waktuku lenggang. Diberi balasan seperti ini, secepat ini? Allah engkau sungguh maha baik sekali.

            Kuhitung uang dan seplastik makanan juga barang oleh-olehnya kutafsir melebihi dari uang yang kuberikan untuk donasi itu. uang yang diamplop tersebut jumlahnya sama persis dengan uang yang kuberikan untuk donasi. Dari sini aku semakin yakin bahwa Allah Maha Kaya, Allah Maha Tahu segalanya kebutuhan kita. Jangan segan-segan untuk memberikan sesuatu yang kita miliki untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Sebab matematika Allah itu beda dengan matematika manusia, jika 10-1= 9 dalam matematika manusia. Belum tentu dengan matematika Allah, bisa jadi nilainya 19. Sebab, Bersedekah pada dasarnya tak akan membuat kita miskin. Malah bisa jadi ada banyak keberkahan dan keajaiban yang terjadi di hidup kita kalau kita bersedekah. Bersedekah pun bisa menjadi bentuk syukur kita pada Sang Pemberi Rezeki Kehidupan.

            Dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda“Tidaklah harta menjadi berkurang kerana sedekah, dan tidaklah seseorang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kehormatan kepada dirinya; dan seseorang tiada bersikap merendah diri kerana Allah , melainkan ia akan diangkat darjatnya oleh Allah .”( HR Muslim dan Tirmidzi )


            *Semoga sepenggal kisah ini dapat bermanfaat. ambil yang baiknya, buang yang buruknya. Tulisan ini hanya untuk pengingat untuk saya sendiri. Sungguh, sayapun masih banyak belajar. 



Yogyakarta, 08 Oktober 2017
Arum, di tengah waktu senggang setelah UTS
Bismillahirrahmanirrahim..
tumblr_lmc4nk6O3b1qkwmgko1_1280_large
Ummu Sulaim Ra. adalah seorang wanita dari kaum Anshor. Beliau termasuk generasi awal yang menerima dakwah Islam. Ketika memeluk Islam, beliau bersuamikan Malik bin Nadzar yang masih musyrik, pintu hatinya tertutup dari hidayah sehingga kondisi tersebut menyebabkan keduanya bercerai. Ini adalah cobaan pertama atas kekuatan ’cinta’ Ummu Sulaim Ra terhadap agama barunya. Cintanya kepada Alloh swt dan Rasul-Nya Ia anggap jauh lebih berharga daripada cintanya kepada Suaminya, walaupun sang suami adalah belahan jiwa, dan ayah bagi putra Tunggalnya. Akhirnya Malik pun pergi meninggalkan sang istri -Ummu Sulaim Ra- dan juga kota Madinah.
Sikap Malik ini mengingatkan kita pada Hadits Rasul Saw, ”Sesungguhnya Madinah itu ibarat Tungku pandai besi, ia akan mengeluarkan orang-orang buruk yang ada didalamnya sebagaimana tungku menghilangkan karat pada besi.” Tentu kejadian ini membuat Ummu Sulaim Ra teramat sedih, tetapi disisi lain justru peristiwa ini menjadikan Ummu Sulaim Ra semakin kokoh melangkah di jalan Alloh Swt.
Ia kemudian berkata lagi, “Aku tidak akan menikah sampai Anas dewasa.” Kebaikan Ummu Sulaim diungkapkan Anas bin Maalik pada sebuah majelis, “Semoga Allah membalas jasa baik ibuku yang telah berbuat baik padaku dan telah menjagaku dengan baik.” Ummu Sulain menyerahkan si jantung hatinya, Anas, sebagai pelayan di sisi seorang pengajar manusia dengan segala kebaikan, yakni Rasulullah SAW.

Lalu Rasulullah menyambutnya hingga sejuklah kedua mata Ummu Sulaim. Hari terus berganti. Orang-orang pun memperbincangkan Anas bin Malik dan ibunya dengan penuh kekaguman dan penghormatan. Kemuliaan dan kebaikan Ummu Sulaim terdengar di telinga Abu Thalhah, seorang hartawan di zaman itu.
Dengan penuh cinta dan kekaguman sehingga ia berusaha untuk meminang Ummu Sulaim. Abu Thalhah pun melamar Ummu Sulaim dengan mahar yang mahal sekali. Namun, lamaran itu ditolak Ummu Sulaim. “Tidak sepantasnya aku menikah dengan seorang musyrik. Tidakkah engkau mengetahui wahai Abu Thalhah, bahwa sesembahan kalian itu diukir oleh seorang hamba dari keluarga si Fulan. Sesungguhnya bila kalian menyalakan api padanya pastilah api itu akan membakarnya.”