Tampilkan postingan dengan label Kisah sederhana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah sederhana. Tampilkan semua postingan
Jangan andalkan orang lain terlalu banyak dalam hidup. Karena bahkan bayanganmu sendiri meninggalkanmu dalam gelap -Ibnu Taimiyah Rahimahullah

 Ada perasaan sesak ketika membaca nasehat dari Ibnu Taimiyah. Memang, seringkali pada masa terpuruk, orang-orang yang selalu didekat kita pergi meninggalkan kita satu persatu. Ada masanya dimana orang-orang yang seringkali membersamai hilang karena satu atau lain hal. Dan kita akan sangat mengerti, siapa diantara ramai manusia yang tetap tinggal dan menetap dalam hidup sesedih apapun hidup kita.

Maka tentunya kau juga akan mengerti, bahwasanya manusia akan tetap pergi. bahkan bayangan sendiripun yang dekat akan diri pada akhirnya akan pergi jua. lantas, siapa yang akan kita jadikan tumpuan dan tempat bergantung harapan? bahkan bayanganmu sendiri saja meninggalkanmu saat gelap. Maka benarlah, cukup Allah saja, yang takkan pernah meninggalkan.

Kita seringkali menggantungkan harap kepada manusia. dan jika patah, tentulah merasa sakit. Jika tidak punya uang, larinya ke tetangga untuk pinjam uang. Jika sedang tertimpa kesulitan, larinya ke teman untuk curhat. Iya, kalau mereka mau bantu syukur Alhamdulillah. Lah kalau enggak? larinya mau kemana coba?

Saya jadi teringat sepenggal kisah yang menghantarkan saya untuk menulis hal ini. Iya, memang pada umumnya saya menulis, dariku untuk diriku sendiri. kisah yang sampai detik ini saya masih hafal betul ceritanya, sebab dari kisah sederhana itulah saya belajar banyak hal.

Awal Januari lalu, saya bersama teman yang lain berangkat ke Bandung untuk melakukan penelitian Tugas Akhir. diminggu terakhir kami, batin saya merasa dag-dig-dug, sebab seluruh teman saya sudah selesai mengambil data penelitian. Sedangkan saya belum, bahkan untuk tahu kepastian bisa mengambil data saja saya belum tahu. Coba bayangkan! saya sebagai mahasiswi tingkat akhir tentunya kepikiran dan stres bukan main. lebay

Saya panik, tentu saja. Apalagi hingga 3 hari sebelum berakhir penelitianpun, saya belum juga mendapat kepastian. hingga akhirnya timbul niat saya untuk memperpanjang waktu tinggal di Bandung. Daripada kamu doang satu-satunya yang nggak dapat data rum! ucapku yang semakin memperteguh niatku. 

Memperpanjang tinggal di Bandung, itu berarti cuma saya saja yang tinggal di Bandung, sebab cuma saya yang belum selesai. Saya meringis, sendirian di Bandung? duh, nantinya kamu cari makan sama siapa rum! nantinya kalau mau beli apa-apa sendirian gitu! asrama sebesar itu cuma isinya kamu doang rum! gimana reaksi orangtua mendengar anak gadisnya sendirian di tempat asing! dan gimana-gimana yang lain yang berputar dikepala. Segala kekhawatiran semakin menguap, mengingat Bandung merupakan kota baru untukku. 

Waktu itu saya salah, iya saya salah. ditengah kesulitan yang melilit. saya mencari pertolongan ke manusia, bukan ke Allah. Saya menggantungkan harapan kepada sahabat saya. Saya terlalu percaya diri bahwa sahabat-sahabat saya mau membantu saya untuk menemani saya tinggal di Bandung. rupanya, mereka tidak bisa. mereka memiliki urusan masing-masing yang tidak mungkin ditinggalkan. patah? kecewa? sakit? Oh, itu sudah pasti. Tapi mau bagaimana lagi, saya terlupa bahwasanya saya menggantungkan harapan kepada selain-Nya.

Menemui jalan buntu. saya baru ingat saya lupa ngadu ke Allah. Iya saya telat menyadari, bahwa saya tidak pernah sendirian, ada Allah. Saya memutuskan untuk coba cerita ke Allah!. lantas, setelah menunaikan sholat ashar saya ngadu, ngadu dan cerita panjang lebar sama Allah. Ditengah keputusasaan diri, saya berserah. Saya nggak apa-apa deh kalau tinggal di Bandung sendiri lebih lama, toh saya nggak sendiri ada Engkau! tak mengapa jika saya sendiri saja yang tetap tinggal, tapi teguhkan hati saya ya dan semoga saya kuat. 

Setelah saya meneguhkan hati, bahwa semuanya akan baik-baik saja. saya benar-benar pasrah, saya tidak lagi memaksa teman-teman saya untuk tidak membeli tiket, karena menunggu saya. saya malah berniat untuk menyuruh mereka membeli tiket pulang karena takut kehabisan. Mengingat besok adalah hari terakhir penelitian. 

Hingga berita yang tak disangka terdengar ditelinga saya. Besok, kamu berangkat ke perusahaan X rum untuk ambil data! Illahi, benarkah? sungguh rasanya tidak percaya.Ya Allah, Engkau Maha baik sekali!. Sungguh, saya tidak menyangka, padahal rasanya hal ini tidak mungkin terjadi, besok hari terakhir penelitian dan ternyata dihari terakhir itu kamu jadi berangkat!. Ya Allah, Engkau Maha baik sekali!.

Air mata saya tumpah. saya menangis, saya malu. Allah sudah baik sedemikian rupa tapi kenapa kamu selalu menomer-sekiankan Allah?. mengapa kamu masih saja bergantung kepada selain-Nya? mengapa kamu selalu ingat Allah saat dalam duka dan masa sulit saja, masa suka dan bahagiamu kemana? terlena?. duh Rabbi, maafkanlah hambaMu ini!!

Maka benarlah, jangan berlebihan menaruh harapan. Jangan terlalu tinggi menggantungkan harap jika hanya pada makhluk-Nya. Sebab jika patah, tentulah sakit rasanya. Sebab jika dikecewakan, tentu juga sakit rasanya.

Maka jangan ya, jangan kau terlalu mengandalkan orang lain dalam hidupmu. Jangan terlalu tinggi menggantungkan harapan jika hanya pada makhluk-Nya. Sebab, disanalah akan kita temukan banyak kepedihan ketika kita bergantung kepada selain-Nya. 

Sekali lagi, cukup Allah saja kau gantungkan harapan. Sebab, Allah tak pernah mengecewakkan!. dan Semoga Allah selalu menjadi yang pertama. Aamiin



Yang sedang berjuang



Arum Melati Suci



Wajah mereka sederhana
Penampilan mereka bersahaja
Pun sikap mereka apa adanya
Tapi ada yang bercahaya di sana
Tapi ada yang memancar daripadanya
Tapi ada yang melegakan di dalamnya
:orang-orang sederhana
Pada mereka aku belajar mengeja hidup
-Azimah Rahayu
            Kali ini izinkan saya menceritakan sepenggal kisah sederhana dari orang-orang sederhana. Dari kisah sederhana itulah, saya banyak memetik hikmah. Dari kisah sederhana itulah, saya simpan pelajaran yang teramat dalam. Ya, kisah sederhana dari orang-orang sederhana. Darinya, saya belajar mengeja hidup.

            Kala itu hari Jum’at di penghujung bulan Agustus. Seperti hari Jum’at biasanya hanya ada 1 mata kuliah dan saat siang jam perkuliahan sudah selesai. Seperti biasa, saya pulang ke rumah dengan menggunakan bus. Melewati rute yang juga biasa saya lewati tiap harinya.

            Hari itu bus tampak senggang, tidak padat seperti jam pulang kantor. Jalanan kali ini pun juga cukup ramah karena tidak ada kemacetan yang berarti. Satu-persatu penumpang naik dan turun tiap bus menghampiri halte. dan disepanjang jalan, saya membaca buku yang kebetulan dibawa. Lumayankan untuk mengusir kebosanan.

            Ditengah seriusnya saya membaca buku,-karya penulis azi. Terdengar suara yang mengusik batin saya. Samar-samar saya mendengar suara lantunan ayat suci Al-Qur’an. Batin saya tergugah, siapa ya yang baca Al-Qur’an di bus seperti ini? Saya pun mencari sumber suara tersebut. Dan ternyata suara tersebut berasal dari bocah laki-laki yang usianya jauh lebih muda dari saya. Saya hafal betul ia hanya mengenakan baju koko putih sederhana dengan al-qur’an digenggamannya. Allah, Melihatnya batin saya merasa tertohok.

            Saya hanya bisa melihat lembaran buku yang saya pegang dengan tatapan nanar. Lembaran buku yang saya baca tadi, tidak menarik lagi untuk dibaca. Detik itu, sungguh saya merasa tertampar. Teringat sudah sejauh mana mempelajari Al-qur’annya? Sudah sejauh mana hafalannya? Hari ini, hari Jum’at udah selesai baca Surat Al-Kahfi belum? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang menari-nari di kepala saya.

            Saya termenung cukup lama, sungguh. Selama ini saya seringkali memberikan sisa-sisa waktu luang untuk membaca Al-Qur’an. Atau bahkan yang lebih parahnya lagi, karena kesibukan dan banyaknya kegiatan. Saya kerap lupa untuk menyempatkan membaca Al-Qur’an. Astagfirullahaladzim Rum!

             Melihatnya membaca Al-qur’an di bus, saya menyadari bahwa ternyata baca Al-Qur’an itu bukan soal have time. Bukan soal give time. Tapi make time. Kapanpun dimanapun (kecuali di toilet) bisa kok baca Al-Qur’an. Bisa dengan bawa Al-qur’an yang kecil, download Aplikasi Al-Qur’an di playstore, atau bisa juga dengerin murottal Al-Qur'an lewat handphone. Ada banyak cara kok untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an. Tinggal gimana kitanya aja:’)


            Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bacalah Al Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya” (HR. Muslim).

So, Jangan lupa tilawah ya! dan Terimakasih dik, atas pelajaran berharganya!

*Semoga sepenggal kisah sederhana ini bisa bermanfaat. ambil yang baiknya, buang yang buruknya. Sesungguhnya, saya pun masih banyak belajar. Dan kisah ini pun merupakan pengingat bagi saya sendiri.




Yogyakarta, 18 November 2017
Arum, yang baru sempat nulis.