Jurusan apa itu? Kalau udah lulus, mau jadi apa?

Aku hanya bisa mengulum senyum mendengarnya. Bukan apa-apa, pasti pertanyaan itu akan muncul saat aku menyebut nama jurusan yang telah aku pilih. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa merangkai jawaban dengan kalimat sederhana yang sekiranya bisa dimengerti. Tidak mungkin kan, aku menjelaskan bahwa ilmu yang ku pelajari berasal dari bahasa yunani kuno. metrom yang artinya ukuran, sedangkan logos artinya ilmu. jadi metrologi merupakan ilmu tentang ukuran.  atau pengertian metrologi berdasarkan UU No 2 tahun 1981 tentang metrologi legal, metrologi adalah ilmu pengetahuan tentang ukur-mengukur secara luas. Bisa-bisa mereka malah kabur duluan hehe.

Namun kalimat sederhana yang kuucap selalu di balas dengan tatapan yang tak terdefinisikan. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa mengeluarkan jurus andalanku, Tersenyum. dan menyudahi percakapan rumit ini.

Berbicara mengenai jurusan yang aku pilih, pikiranku melompat 2 tahun silam, tepatnya tahun 2015. Sejak SMA aku memang telah membulatkan tekad untuk mengambil jurusan yang ada hubungannya dengan Fisika. Apapun pokoknya Fisika. Pilihanku ini lagi-lagi diherankan oleh teman sekelas, bahkan keluargapun juga ikut terheran. Sebayamu menganggap Fisika itu momok yang menakutkan lho. Ini malah mau ngambil jurusan itu. terus nantinya mau jadi apa?. Kali ini aku hanya bisa tersenyum, sambil merangkai kalimat sederhana untuk jawaban kegundahan mereka.

Sejujurnya bukan hanya mereka saja yang kebingungan. Akupun juga, saat di awal. Namun semuanya ku tepis, sebab aku memilihnya bukan ikut-ikutan temen atau berdasarkan hitung kancing. Namun, dengan pemikiran mendalam diselingi doa yang seringkali ku rapal. Dan jadilah, semua jurusan yang ku pilih berbau Fisika.

Kesabaranku harus di uji, ketika aku ditolak jalur SNMPTN di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Sedih, kecewa, terpukul sudah pasti. Yah bagaimana tidak, ditolak suatu Universitas dan jurusan yang diinginkan-inginkan sejak dulu? tentulah sedih. Seketika harapanku untuk bersekolah disana menciut, seiring dengan perkataan yang bertubi dilontar kepadaku.

Memangnya nilaimu bagus,  sehingga berani mendaftarkan ke sana?

Harusnya kamu tahu kemampuanmu seberapa. Yang daftar disana tentunya memiliki nilai yang bukan main bagusnya!.

Kau pun tahu pesaingmu itu ribuan, pintar lagi. kok berani-beraninya mendaftar?

Batinku meringis. harapan yang telah bersemi lama pun seketika langsung layu. Allah, apa iya aku memang tak pantas disana?. Apa iya aku harus mengubur mimpi yang selama ini ku rajut?. kali ini aku benar-benar menemui jalan buntu. Universitas di Jakarta yang kupilih sebagai cadangan rasanya tidak terlalu sreg. Meskipun aku memilihnya jurusan Pendidikan Fisika. Aku pun juga tidak berani lagi memilih Universitas impianku, Setelah ditolaknya. Ntah, ingin lanjut kemana aku ini setelah lulus. Segala gundah gulanaku ku curahkan lewat 2 raka’at shalat istikharah.

Aku hafal betul baris kalimat doa yang ku rapal kala itu.
Allah, Engkau pasti tahu bagaimana aku teramat ingin bersekolah di Universitas itu. Aku paham jika mungkin saja apa yang aku sukai belum tentu baik untukku menurut pandangan-Mu. Aku menyukai bidang Fisika. Aku menyukai bersekolah di Univesitas itu. tapi apa menurut-Mu bagus untukku?. Begitu pun sebaliknya. Mungkin aku tidak sreg dan tidak begitu menyukai Universitas di Jakarta. Namun, barangkali memang itu adalah pilihan yang tepat untukku? Atau memang ada pilihan-pilihan lain yang masih Kau sembunyikan?. Maka dari itu Ya Allah, pilihkan yang terbaik untukku, untuk agamaku, untuk keluargaku, untuk masa depanku, soal perkara ini ya Allah. Jika memang Universitas yang ku impikan adalah memang yang terbaik untukku. Maka biarkan Universitas itu mengundangku lewat caraMu tanpa aku bersusah payah untuk bersaing dengan puluhan ribu lainnya. Namun jika tidak, tunjukkan aku jalan yang lain. Jalan mana yang harus ku tempuh...

Hingga tiba suatu hari yang membuatku begitu terpana. Salah satu jawaban atas doaku kini terjawab. Aku lulus PMDK (Jalur Undangan) Universitas impianku!. Aku diundang Universitas Impianku untuk bersekolah disitu tanpa susah-susah bersaing dengan puluhan ribu pesaing! Teriakku dalam hati. Sejujurnya aku sedikit tidak ingat jalur PMDK ini, mengingat jarak pengumuman yang terlalu lama dari yang lain. Duh, Gusti Indah sekali rencana-Mu.

Dengan teguh aku memilih pilihan yang telah Allah pilihkan. Meninggalkan tes mandiri Universitas Negeri yang terletak di wilayah Jakarta. Meskipun bukan jurusan Fisika. Tetapi jurusan Metrologi dan Instrumentasi. Tapi kala itu aku yakin betul, pasti ada sesuatu hal yang Allah siapkan untukku. Ada makna yang tentunya belum aku tahu.

Hingga keteguhanku seringkali tergoyahkan oleh perkataan yang bertubi ditunjukkan kepadaku, kali ini berbeda bunyi.

Jurusan apa itu? nanti habis lulus mau jadi apa?

Kenapa nggak ambil S1 sekalian? Tanggung kalau Cuma D3!

Loh kamu ambil D3, memangnya nanti mau jadi apa?

Aku hanya bisa tersenyum. kali ini aku tidak boleh goyah! Perkataan semacam itu akan terus selalu ada. Bagi mereka yang tidak tahu mula cerita dibaliknya. Bagi mereka yang tidak tahu peluh perjuangan mendapatkannya yang mereka bilang “Cuma” itu. Mau sampai kapanpun ridho manusia memang mustahil untuk diraih.

Hingga aku merasa terpana lagi. ketika aku menyadari ternyata eh ternyata Praktikum yang dijalankan di semester awal dilaksanakan di Laboratorium Fisika yang letaknya di Gedung jurusan Fisika!. Allah, Aku mencicipi laboratorium di jurusan yang ku impikan. Dan yang tak kalah mengejutkan adalah pembelajaran waktu kuliah di laksanakan di gedung MILAN (Mipa-Selatan) gedung kuliah bagi mahasiswa FMIPA, yang kini dipindahkan di wilayah MU(Mipa-Utara). Illahi, aku menempati gedung fakultas yang aku impikan dulu! Allah, jadi ini rencana-Mu?.

Aku akan menjalani peranku yang telah Allah gariskan untukku. Mahasiswi D3 Metrologi dan Instrumentasi. Aku tahu setiap orang memiliki peranan masing-masing dalam hidupnya. Ada yang habis Lulus SMA lanjut S1, Ada yang habis lulus SMA kerja dulu baru kuliah, Ada yang habis lulus SMA kuliah diploma dulu baru nanti S1, Ada juga yang habis lulus SMA terpaksa bekerja karena kesulitan biaya. Semua ada perannya masing-masing, tinggal kitanya mau ngejalaninnya gimana. Dijalani sambil ngegerutu? Atau dijalani dengan bersyukur dan ditempuh di jalan keridhoan-Nya? Semua balik lagi ke diri sendiri.

Soal perkataan yang seringkali melemahkan. Lebih baik jangan terlalu dipikir. Sebab, akan selamanya tetap begitu. Dan kitapun nggak akan bisa menyenangkan semua orang bukan?. Jangan cari ridho manusia ya. Cari ridho Allah saja!

Ridho semua manusia adalah tujuan yang tidak mungkin digapai. tidak ada jalan untuk selamat atas omongan orang. Maka lihatlah kebaikan hatimu peganglah dan biarkan manusia berbicara sekehendak mereka. -Imam Syafi'i

*Semoga sepenggal tulisan ini dapat bermanfaat ya. Ambil yang bagusnya, buang yang buruknya. Btw, Taqabbalallahu minna Wa Minkum, Shiyamana wa shiyamakum. Mohon Maaf Lahir dan batin. dan Selamat hari raya Idul Fitri 1438 H!


Yang masih terus belajar



Arum Melati Suci

Aku ingin menjadi suamimu Nusaibah.
Tak peduli bila terkesan mendadak. Tapi aku tak ingin lelaki lain mendahului melamar gadis baik hati sepertimu. Bagaimana denganmu nusaibah. sudikah?

Aku melipat kertas yang telah lusuh karena terlalu sering ku baca. Kertas Surat yang kukirimkan sebulan lalu. Namun dikembalikan lagi kepadaku. Karena alamat yang tertera di amplop tak ditemui  penerimanya.

***

Nusaibah
Gadis tomboy itu tinggal dua blok dari rumahku. Hobinya panjat pohon mangga depan rumahku! Ntah untuk mengambil buah mangga yang telah masak ataupun sembunyi dari omelan ayahnya. Tapi itu dulu. Sekarang dia tak lagi tinggal dua blok dari rumahku. Dan pohon mangganya? Sudah setahun ditebang.
Nusaibah
Dulu ia seringkali mampir ke rumah untuk mencicipi resep baru kue buatan Ibu sebelum kue itu dijual. Ibu seringkali berujar ia senang jika Nusaibah yang mencicip resep baru kue buatannya. dibandingkan aku, Bang Faris atau Bang Hamid. Ya memang kami tidak cukup diandalkan untuk mengomentari kue buatan ibu. Jawaban kami pasti sudah tentu enak tanpa ada embel-embel kurang tambahan ini, bentuknya kalau lucu seperti ini, atau sebagainya. Hanya Nusaibah yang berkomentar  seperti itu. Dan itu dulu.
            Nusaibah dan Sekeluarga Pindah saat ia dan aku duduk di bangku menengah pertama. Sejujurnya aku tak tau alasan mengapa ia dan keluarganya pindah. Yang ku tahu dari Nusaibah karena ayahnya menderita sakit. Hanya itu. Selebihnya aku tidak tahu dia pindah kemana.

***
            Aku hafal betul. Kala itu penghujung bulan Juli. Pertama kalinya bertemu lagi dengan sosok Nusaibah. Ia susah sekali untuk dikenali. Aku bahkan memastikan beberapa kali untuk meyakinkan kalau memang benar itu Nusaibah. Raut mukanya memang tak banyak berubah. Namun penampilannya kini sungguh jauh berbeda dengan yang dulu. Tidak ada celana jeans belel selutut dan kaos, juga gelang-gelang hitam yang melingkar di  tangannya. Tidak ada lagi rambut pendek sebahu yang diikat asal olehnya. Yang ada kini balutan gamis dan jilbab dengan warna senada.

“Bagimana kabarnya Nusaibah?” tanyaku memulai pembicaraan.
“Alhamdulillah baik. Mas Satria dan sekeluarga bagaimana kabarnya? Ibu masih berbisnis kue?”
“Alhamdulillah baik. Ibu masih berbisnis kue. Bagaimana mau mampir untuk mencicip?”
Nusaibah tertawa pelan. “Lain waktu kalau senggang Nusaibah kesana” timpalnya.
Sejak pertemuan itu. Aku mendapat sedikit informasi tentangnya lewat selingan percakapan singkat kami.
            Namanya Nusaibah Azzahra dulu ia tinggal dua blok dari rumahku. Tapi kini ia tinggal di Jogja. Mahasiswi tingkat akhir Jurusan Bahasa Indonesia. Ia pergi ke Solo dan kebetulan bertemu lagi denganku karena ingin menghadiri acara walimah pernikahan kakak sepupunya.

***
            Aku menjumpainya lagi dengan sosok Nusaibah kali ini di tepi jalan raya. Ia bersama teman-teman akhwatnya yang lain sedang melakukan sosialisasi tentang hukum menutup aurat dan membagikan hijab syar’i kepada para wanita yang melintasi jalan tersebut. Ditengah aksinya tersebut aku mendengar samar ia menyuarakan kalimat yang begitu takjim untuk aku dengar.

“Percayalah setiap wanita itu cantik. Dan cantikmu istimewa. Biarlah cantikmu hanya dipersembahkan untuk pasangan halalmu kelak.yakni Suamimu. Bukankah Allah pun juga berfirman dalam Surat An-Nur Ayat 31 dan Surat Al-Ahzab Ayat 59.”
Ah kini aku tau Nusaibah sedang berproses memperbaiki diri.

***
            Sejak mendapatkan pekerjaan sebagai guru di suatu pondok pesantren di Solo. Aku tenggelam dalam rutinitas pekerjaan. Kegigihanku dalam bekerja dibalas dengan perolehan karir yang cukup gemilang. Tapi rupanya ibu tak sebahagia itu. Ia selalu berujar bahwa akan bahagia jika aku segera berkeluarga.

“Ibu punya sahabat yang memiliki anak gadis Sat. Mau ibu kenalkan tidak? Dia cantik dan sholeha. Kurasa cocok dengan karaktermu” bah sekarang Ibu mulai menjodohkanku!
“Bu. Satria ingin memilih gadis pilihanku Bu” kataku tak berani menatap Ibu.
Mata teduh itu menatapku lekat-lekat ia mengelus lembut rambutku yang sedikit ikal.
“Jika telah yakin dengan gadis pilihanmu itu. Jangan ragu untuk memperkenalkan pada Ibu. Apa yang kau tunggu lagi Sat? Umur ibumu telah tua”

***
Aku hafal betul baris kata yang kutulis dalam selembar kertas berwarna biru.
Aku ingin menjadi suamimu nusaibah.
Tak peduli bila terkesan mendadak. Tapi aku tak ingin lelaki lain mendahului melamar gadis baik hati sepertimu. Bagaimana denganmu Nusaibah. sudikah?

Bismillahirahmanirrahim. Semoga kau sudi! Panjatku ketika memasukan kertas biru ke amplop yang akan kukirim.

Tepat Seminggu aku mengirim surat kepada Nusaibah. Tak ada surat balasan mengatas namakan Nusaibah. Ah sudahlah Mungkin dia tengah berpikir. Usahaku menepis kegundahan hati.

Dua minggu berlalu. Aku mulai khawatir. Bagaimana tidak? Tak ada surat balasan untukku. Illahi apa aku ditolaknya?

            Aku makin tenggelam dalam rutinitas pekerjaan. Mencoba melupakan kenangan dan melampiaskannya melalui kesibukanku. Hingga sampai suatu pagi aku terlonjak mendengar pengantar pos surat mencariku.

“Surat Bapak tertahan di kantor Pos kami Pak. Sudah dikirim ke alamat yang tertulis tapi tak ada yang bernama Nusaibah” katanya.
Ya Allah hampir sebulan.
“Alamatnya sudah betulkan Pak?” tanya pengirim pos membuyarkan lamunanku
“Sudah Pak. Itu alamat yang diberikan nusaibah kepada saya”
“Wah, Mungkin orangnya pindah pak” lagi katanya. Yang membuatku terpaku.
Ya Allah. Pindah lagi? Pindah kemana? Semoga ia tak pindah dan menetap disana lama. Semoga ia pergi kesuatu tempat dan lupa memberi kabar. Semoga...

***
            Hari berikutnya aku mendatangi alamat yamg diberikan Nusaibah dulu. Namun hasilnya nihil. Nusaibah memang telah pindah. Namun ada hal lain yang membuat hatiku gemuruh. perkataan Aliya tetangga nusaibah.

“Sebelum dia pindah ia memberitahuku kalau ia pindah ke rumah orangtua dan kakaknya karena Penyakit ayahnya sedang kambuh. Tapi Nusaibah juga bercerita jika dia akan dijodohkan dan aku nggak tahu siapa orangnya”

Mulutku membisu mendengar perkataan yang diucapkan Aliya. Aku tak upaya untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutku. Kekecewaanku kekesalanku hanya bisa kutelan sendiri. Ya Allah ini begitu menyesakkan. Andaikan aku mengirim surat jauh hari sebelum kepindahannya. Andaikan Nusaibah...

“Jangan terlalu bersedih Sat. Insya Allah wanita yang lebih sholehah dan lebih cantik dari Nusaibah itu banyak Sat” kata Paman menghiburku.
“Sudahlah Sat jangan malah menyakiti dirimu sendiri. “ Kata paman setelah ia menyaksikan kantong mataku semakin membesar. “Yakinilah bahwa ketentuan Allah itu baik.  Jika memang Nusaibah tidak menjadi pasangan hidupmu. Mungkin saja Allah telah menyiapkan pasangan yang jauh lebih baik untukmu. Berhuznudzan saja pada Allah. Karena yang menurutmu baik belum tentu menurut Allah itu baik untukmu”.
Ah, iya benar juga kata Paman. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Baqarah ayat 216. Bahwa “Boleh jadi kamu membenci sesuatu. Padahal itu amat baik bagimu. Dan boleh jadi(pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”

Aku begitu yakin terhadap ketentuanmu Ya Allah. Karena sesungguhnya Kaulah perencana yang hebat.

***

“Kamu ingat tidak gadis yang ibu ceritakan itu? Besok lusa dia datang berkunjung kesini Sat.”
“Apa bu? kenapa tidak bilang dulu kepadaku Bu?”
“Dia hanya berkunjung ke sini Sat. Silaturrahmi. Ibu hanya berusaha memilihkan calon terbaik kepadamu. Bukan memaksamu. Keputusannya ya ada di kalian berdua”
Aku menghela nafas. Kuiyakan saja permintaan Ibu untuk menyambut keluarga temannya yang akan datang lusa.

***
            Hari yang dinanti keluargaku akhirnya tiba. Segala hal telah dipersiapkan Ibu sejak kemarin. Piring-piring cantik dibersihkan hingga berkilap. Pekarangan rumah yang biasanya dipenuhi daun kering bersih karena disapu. toples kecil berisi kue buatan Ibu terjejer rapi di meja. Ya, Benar-benar sempurna!
“Kalau keluarganya datang senyum loh Sat. Sambut yang hangat” katanya sambil melirik keluar jendela.
            Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh. Sudah lewat satu jam dari waktu yang dijanjikan. Ibu terlihat gelisah. Khawatir segala hal yang dipersiapkan sia-sia. Ku tenangkan ia dengan berkata bahwa  jika libur jalanan suka macet dipenuhi kendaraan yang akan berlibur ke luar kota.
            Suara deru mobil terdengar makin dekat dengan rumah kami. Akhirnya mobil berwarna hitam tersebut menepi di depan rumah. Ibu melonjak girang dan mengucap syukur. Ia menyuruh aku dan adikku keluar untuk menyambutnya.
            Aku yang sejak tadi merasa tenang. Sekarang justru merasa tegang. Kurasakan aliran darahku makin cepat dan detak jantungku makin tak karuan. Pasti raut gugup nampak di wajahku. Bagaimana tidak? Kini aku harus bertemu dengan gadis pilihan Ibu yang mungkin sama sekali aku belum kenal. Rabbi tenangkanlah  hatiku.
            Aku melihat lelaki dengan rambut sedikit beruban tengah duduk di kursi roda. Ia dibantu oleh seorang wanita yang ku tafsir seusia dengan lelaki itu. Ku tebak pasti ia istrinya.

“Maaf ya Bu, lama menunggu sudah lama tidak kemari sedikit lupa jalannya. Ternyata sudah banyak yang beda yaa”
“Oh ya tidak apa-apa. Ayo masuk ke dalam rumah pasti kalian lelah” pinta ibu dengan ramah
“Loh Bu. Kok Cuma berdua. Zahranya kemana kok ndak ikut?” tanya ibu lagi

            Wanita itu kemudian muncul dari belakang. Ia tersenyum dan melipatkan tangannya mengucap salam. Aku terlonjak kaget melihat sosok itu. Kini aku tahu siapa lelaki yang akan dijodohkan ayahnya kepada Nusaibah. Sekarang akupun tahu siapa wanita yang dipilihkan Ibu untukku.

Aku hafal betul sosok itu Nusaibah Azzahra.
Duh, Gusti Indah sekali rencanamu.
Nusaibahpun tak kalah kaget melihatku. Namun kemudian ia melontarkan senyum hangatnya yang tak pernah ku lihat setengah tahun terakhir.
Aku ingin menjadi suamimu nusaibah.
Nusaibah membacanya dengan tersipu
Tak peduli bila terkesan mendadak. Tapi aku tak ingin lelaki lain mendahului melamar gadis baik hati sepertimu. Bagaimana denganmu nusaibah. sudikah?
Wajahnya bersemu merah. Tak pernah ku lihat wajahnya semerah itu saat membaca kertas biru yang kutulis beberapa waktu lalu.
“Jadi, bagaimana denganmu Nusaibah sudikah?”
Ia terdiam sejenak. lalu kemudian membuka mulutnya untuk mengucapkan jawaban yang telah lama kunanti.
“Aku bersedia jadi istrimu”
Masya Allah. Ya, Nusaibah tak akan pernah pergi lagi. Ia kembali untukku atas nama takdir. 


*Cerpen yang telah lama disimpan didraft

-Arum Melati Suci


Seringkali kita kerap sekali lupa
Kita lebih sering mikirin caranya hidup enak di dunia daripada di akhirat. Lebih sering mikir gimana ya supaya dapat kerjanya enak? gimana ya supaya bisa dapat rumah mewah? Gimana ya supaya bisa beli gadget yang mahal dan canggih? Dan gimana-gimana keduniawian yang lain.

Seringkali kita juga kerap sekali lupa
Suka lupa kalau kematian bisa saja tiba-tiba menjemput.
Suka lupa kalau tiap hari malaikat maut datang menghampiri.
Suka lupa dengan ajal yang dimana saja bisa mengintai.
Lalu, sudah sejauh mana diri kita mempersiapkan bekal nanti?
Ya, Bekal. Bukan bekal tabungan uang yang sudah ditabung bertahun-tahun. Harta yang dicari selama di dunia, apalagi bekal makanan dan minuman. Bukan, Yang akan dibawa bukan bekal seperti itu. Tapi, Amal ibadahmu yang akan jadi bekal di Akhirat kelak.

Seringkali kita juga kerap sekali lupa
Kita lebih sibuk mempercantik diri daripada memperbaiki diri
Kita lebih sibuk membicarakan keburukan orang lain tapi lupa dengan aib sendiri
Kita lebih sibuk supaya dikenal banyak orang tapi lupa supaya dikenal penduduk langit
Dan kita lebih sibuk  mikirin hidup enak tapi lupa mikirin mati enak.
Iya, memang manusia banyak lupanya.

Seringkali kita juga kerap terlupa, bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan. Kita Ibarat seorang musafir, yang sedang menempuh perjalanan panjang. Maka kita harus mempersiapkan bekal sedini mungkin untuk menempuh perjalanan panjang itu. menuju akhirat. 

Dunia hanya tempat singgah seberapapun gemerlap,atau sebetapa gelap. Dunia hanya tempat singgah bukan tempat istirahat

Jika dunia ini hanyalah tempat persinggahan. Mengapa kita senantiasa bangga terhadap segala sesuatu yang dimiliki? Bukankah itu hanya titipan?

Jika dunia ini hanyalah tempat persinggahan. Mengapa kita tak sibuk menyiapkan bekal?Mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu harus kembali pulang menghadap-Nya.

Ya Allah. Maafkan!
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS.al-Hadîd[57]:20).


Ah, Duhai Allah. Maafkan, Jika diri ini begitu silau dengan gemerlapnya dunia.


Yogyakarta, 12 Mei 2017



Hamba-Mu yang seringkali terlupa

*Note To My self and Just Remember Of me:')


(Semoga Persahabatan kita Sampai Ke Surga. Aamiin^^)
Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa. karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran. Karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu. Wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali : "Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara" -Salim A. Fillah
Ah. Maafkan!
Bila seringkali terselip luka diantara sela canda dan tawa
Bila diri ini seringkali berprasangka buruk namun tak ada benarnya.

Duh. Maafkan kawanmu ini
Pada begitu banyak duri dari kata yang terbiasa terlontar
Pada hati yang seringkali menaruh tak suka daripada suka
Pada ego yang ingin banyak menangnya

Karena surga begitu luas untuk ditinggali sendiri
Maka ajaklah aku kawan, untuk bersegera dalam meraih kebaikan
Mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
Melalui dekapan ukhuwah
Menggapai jalan yang penuh dengan Ridho-Nya

Dan Apabila seringkali diri ini
Merasa paling benar sendiri, baik sendiri
Menutup telinga ketika ada yang menasehati
Maka Ingatkan aku kawan. untuk acapkali memeriksa hati
barangkali, ia tengah sakit?

Dan di dalam setiap dekapan ukhuwah
Mari mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi!
Maka bersemangatlah kawan!

Yogyakarta, 01 Mei 2017


Sore itu, langit jogja mendung. Setelah seharian diguyur hujan membuat hawa dingin yang menusuk, malas rasanya beranjak dari kasur. Apalagi, ditambah kegiatan kuliah yang hampir menyedot energi dan baru hari itu bisa pulang lebih awal. Setelah sebelumnya pulang dengan keadaan matahari telah tenggelam.
Terdengar suara adzan begitu lantang menggema. Ya, karena kediamanku hanya berjarak lima langkah dari masjid . Jujur, hawa dingin yang  ditambah rasa lelah malah membuat aku begitu khusyu meringkuk diatas tempat tidur. Setelah adzan telah selesai dikumandangkan, aku mengurungkan rasa malasku ini. Kejar shalat tepat waktu rum... Kataku yang menjadi pecutanku saat itu.
Jalanan yang becek akibat diguyur hujan tadi, seorang anak memakai sarung yang kebesaran menggandeng lelaki paruh baya dengan erat, kupikir ia pasti bapaknya. Anaknya dengan begitu telaten dan lembut menuntun bapaknya memasuki pintu masjid. Allah, aku meringis. Bapak itu dengan tangannya meraba-raba pintu masjid. Allah, bahkan bapak itu yang tak bisa melihat saja begitu semangatnya datang ke masjid padahal masjidnya masih sepi. Anak yang kutafsir usianya masih 6 tahun pun begitu rajin menyambangi masjid.
Rasanya, aku begitu tertampar. Mataku yang normal, tubuhku yang Allah karuniai dengan begitu sempurnanya. Rupanya, jarang sekali raga ini akrab dengan masjid. Mengulur-ulur waktu shalat. Saat terdengar adzan, seringkali diri ini larut dalam Kegiatan aktivitas lainnya. Menunda-nunda shalat, padahal shalat ialah amal yang pertama kali dihisab.
Rasulullah Saw. bersabda yang artinya,
“Amal yang pertama kali dihisab padahari kiamat dari seorang hamba adalah sholatnya. Jika sholatnya baik maka telah sukses dan beruntunglah ia, sebaliknya, jika rusak, sungguh telah gagal dan merugilah ia.” (HR Tirmizi dan yang lain dari Abu Hurairah. Ia berkata, “Hasan Gharib.”)
Illahi, diri ini seringkali mengaku mencintaiMu, mencintai Rasul, tapi apa bukti wujud cintaku?
Jika cinta yang hinggap pada dua insan yang tengah mabuk kasmaran. Bertemu dengannya ialah candu, candu untuk bertemu lagi dan lagi. Maka ya Allah semoga diri ini begitu rindu sekali menghadapMu disepertiga malamMu dan di awal waktu shalat fardhu
Ya Allah izinkan hamba mencintaiMu dengan segenap hati. Berharap padaMu dan hanya bergantung padaMu. Karena berharap kepada manusia, tak ubahnya tak mendapat apa-apa. Bahkan hanya kekecewaan saja yang didapat.
Yogyakarta, 13 Februari 2016


Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
-Imam Syafii
Bismillahirrahmanirrahim..
tumblr_lmc4nk6O3b1qkwmgko1_1280_large
Ummu Sulaim Ra. adalah seorang wanita dari kaum Anshor. Beliau termasuk generasi awal yang menerima dakwah Islam. Ketika memeluk Islam, beliau bersuamikan Malik bin Nadzar yang masih musyrik, pintu hatinya tertutup dari hidayah sehingga kondisi tersebut menyebabkan keduanya bercerai. Ini adalah cobaan pertama atas kekuatan ’cinta’ Ummu Sulaim Ra terhadap agama barunya. Cintanya kepada Alloh swt dan Rasul-Nya Ia anggap jauh lebih berharga daripada cintanya kepada Suaminya, walaupun sang suami adalah belahan jiwa, dan ayah bagi putra Tunggalnya. Akhirnya Malik pun pergi meninggalkan sang istri -Ummu Sulaim Ra- dan juga kota Madinah.
Sikap Malik ini mengingatkan kita pada Hadits Rasul Saw, ”Sesungguhnya Madinah itu ibarat Tungku pandai besi, ia akan mengeluarkan orang-orang buruk yang ada didalamnya sebagaimana tungku menghilangkan karat pada besi.” Tentu kejadian ini membuat Ummu Sulaim Ra teramat sedih, tetapi disisi lain justru peristiwa ini menjadikan Ummu Sulaim Ra semakin kokoh melangkah di jalan Alloh Swt.
Ia kemudian berkata lagi, “Aku tidak akan menikah sampai Anas dewasa.” Kebaikan Ummu Sulaim diungkapkan Anas bin Maalik pada sebuah majelis, “Semoga Allah membalas jasa baik ibuku yang telah berbuat baik padaku dan telah menjagaku dengan baik.” Ummu Sulain menyerahkan si jantung hatinya, Anas, sebagai pelayan di sisi seorang pengajar manusia dengan segala kebaikan, yakni Rasulullah SAW.

Lalu Rasulullah menyambutnya hingga sejuklah kedua mata Ummu Sulaim. Hari terus berganti. Orang-orang pun memperbincangkan Anas bin Malik dan ibunya dengan penuh kekaguman dan penghormatan. Kemuliaan dan kebaikan Ummu Sulaim terdengar di telinga Abu Thalhah, seorang hartawan di zaman itu.
Dengan penuh cinta dan kekaguman sehingga ia berusaha untuk meminang Ummu Sulaim. Abu Thalhah pun melamar Ummu Sulaim dengan mahar yang mahal sekali. Namun, lamaran itu ditolak Ummu Sulaim. “Tidak sepantasnya aku menikah dengan seorang musyrik. Tidakkah engkau mengetahui wahai Abu Thalhah, bahwa sesembahan kalian itu diukir oleh seorang hamba dari keluarga si Fulan. Sesungguhnya bila kalian menyalakan api padanya pastilah api itu akan membakarnya.”