Selasa, 18 Juni 2013

Cerpen "Sebening Embun Pagi"


Cerpen "Sebening Embun Pagi"
Cipt: Arum Melati Suci
~Sebening Embun Pagi yang menempel didedaunan~
 Erangan suara wanita paruh baya itu membangunkan Embun dari tidurnya. Dengan sigap ia penuhi segala yang dibutuhkan wanita paruh baya itu yang tak  lain adalah ibunya. Ibunya tak bisa bicara dan lumpuh karena penyakit struk yang dideritanya, Sebab itu Embun harus mengawasi karna mereka hanya tinggal berdua.
Embun kini mengerti dan memahami kondisi ibunya. Hanya tinggal dialah yang menjadi tumpuan keluarganya. Kakaknya yang sudah menikah dan memilik 3 orang anak tinggal jauh darinya , yang menyebabkan Embun harus berjuang mengurus Ibunya yang sudah lama ditinggal suaminya. Tak heran, embun terkadang lupa waktu untuk memikirkan kepentinganya.

Embun Nur Aliya, nama yang begitu indah secantik parasnya , gumam orang-orang saat mendengar nama embun disebutkan. Tak hanya berparas ayu, tutur lembut serta bening pancaran wudhu yang Nampak dari wajahnya menambah nilai plus embun oleh orang disekitarnya. Namun, sayang gadis secantik embun kok, belum melepaskan masa lajangnya. Padahal lelaki diluar sana sudah mengantri untuk mendapatkanya. Bisik-bisik tetangga yang terdengar bising ditelinganya.

Usianya yang memasuki kepala 3, usia yang sudah matang bukan untuk menikah ? namun apalagi yang harus ditunggu dan difikirkan ? masalah ibunya ? selidik para tetangga yang penasaran terhadap embun yang masih melajang. Padahal dia cantik, dan baik lelaki mana coba yang menolak gadis seperti Embun?.


Desakan-desakan keluarga dan saudara-saudaranya pun jadi santapan tiap hari Embun. belum lagi, sejumlah pertanyaan pertanyaan terlontar khusus untuknya bertemakan hal yang sama gencar ia dapatkan.
“Kapan menyusul menikah bun?”
“mau cari pasangan yang seperti apa bun ? wanita cantik sepertimu pasti banyak kan lelaki yang naksir, mau cari lelaki yang seperti apa lagi ?”

“ embun tidak memilih-milih lelaki untuk pendamping hidup embun. Ku serahkan semua urusan ini kepada Allah. Aku hanya bisa berikhtiar dan berdoa yang terbaik” mereka yang bertanyapun hanya diam dan manggut-manggut mendengar jawaban embun. mungkin ada rasa sedikit tidak puas yang mengganjal hatinya.

***
Selepas Zuhur, Embun menghadiri undangan Tasyakuran kelulusan Khoirul Umam, teman semasa kuliah Embun dulu. Namun, umam melanjutkan studi S2 nya di Cairo. Lelaki itu, lelaki yang berhasil membuat hati gadis itu Terperangah dan mengusik hari-hari Embun. siapa sangka ternyata Embun menaruh hati kepadanya dari dulu.

JLEG. Rasanya bagai tersambar petir, hati yang berbunga-bunga karena Umam mengundangnya pun seketika layu, karena Ia melihat Umam bersama dengan wanita lain bercengkrama dengan akrab. Umam adalah tipikal pria  yang enggan berbaur dengan yang bukan makhramnya, Embun tahu jelas. Lalu siapakah ia? Wanita disamping umam dengan Jilbab yang menjulur panjang dengan gamis coklat?  Istrinyakah ?

Di sepertiga malam terakhir, embun bangun untuk menunaikan shalat sunah, ia kembali menata hatinya yang sempat goyah, mengadu menceritakan segala keluh kesah dan sesuatu yang mengganjal hatinya, kepada siapa lagi kalau bukan Sang Pemilik Arasy ini. Allah S.W.T sang Maha membolak-balikan hati Insan yang bernama manusia.

“e..e..eemmmuun.. e..emuunn” suara yang tak jelas namun embun tau itu adalah suara ibunya yang mencoba memanggil namanya walau meski belum sempurna.

“iyah ada apa bu?” jawabnya segera.

Matanya terbelalak, Seketika jantungnya berdetak tak karuan seperti pukulan gendang yang ditabuh tak berirama. Mulut ini rasanya membisu, sukar sekali mengeluarkan sepatah kata apapun.

“Embun, kamu kok berdiri saja disitu. Duduk sini” kata Kakakku yang datang lusa kemarin.

 Tanpa pikir panjang, ia pun nurut perintah kakaknya. Heran memang, ada apa Orangtua Umam dan Umam datang ke rumah. Ah.. mungkin ia sedang menjenguk Ibu, atau bersilaturahmi.

“ Assalamualaikum embun” katanya

“Walaikumsalam mas”

“Embun, maksud kedatangan kami sekeluarga kesini adalah untuk melamarmu menjadi istri mas”

 “ Apa Melamarku? Bukankah mas Umam sudah mempunyai pendamping?”

“ Pendamping apa, maksud dek embun” Tukas Bapaknya Umam dengan cepat.

“ Wanita disamping umam kemarin, istrinyakan?”

Seketika suasana yang serius pecah dengan riuhan tawa kecil mereka. ayahnya, ibunya, umam, bahkan Kakaknya pun tertawa. Ntah apanya yang lucu menurut mereka ? Yang jelas Ia masih tetap diam dengan wajah kebingungan.

“ Dek Embun, wanita kemarin yang mengenakan gamis coklat ya? Ia sepupu kami dari Cairo. Mungkin dek embun belum pernah melihatnya. Karena memang ia tinggal di Cairo. Dek Embun, Umam belum memiliki pendamping hidup” kata ayahnya menjelaskan.

“Lalu Bagaimana embun, bersediakah engkau menjadi pendamping hidupku, menemani di sisa hembusan nafas ini, dan dapat menjadi makmum ku suatu saat kelak?”

“ Bismillahirahmanirahim.. atas kehendak Allah yang memisahkan kita dan mempertemukan kita kembali, aku menerimanya, menerima segala yang ada pada dirimu, dengan rasa ikhlas dan tanpa sebuah keluhan. Aku bersedia menjadi pendamping hidupmu.. menemani sisa hembusan nafas kita bersama-sama.”

“Alhamdulilahirabilalamin” gumam keluarga umam dan umamnya sendiri.

“ Namun, mas bolehkah aku meminta suatu hal?”

“silahkan bun, insyallah jika mas mampu mas akan menurutinya”

“ Meski kita menikah, bolehkah ibu tetap berada bersamaku mas”

“Ya tentu saja boleh bun, Ibumu adalah mertuaku. Dan sudah ku anggap sebagai ibuku sendiri”

***
Hari-hari Umam dan Embun terasa begitu sempurna, terlebih karena Embun tengah mengandung 3 bulan. Semakin hari ibunya semakin membaik, ia sudah bisa banyak mengucapkan kata-kata. Dan ia sudah tidak lumpuh lagi, sudah bisa berjalan walau meski menggunakan bantuan. Bersyukur itulah yang slalu dipanjatkan Embun dalam sujud-sujud malamnya.





~ Laksana setetes embun yang menyeruak dan menempel di permukaan daun, membuat daun itu lebih segar dan indah. sekecil apapun nikmat yang dikaruniakan Tuhan kepada kita, bersyukurlah. Dengan syukur, hidup menjadi indah tanpa keluhan~

0 komentar:

Poskan Komentar