Life is adventure. from Allah to Allah

Mau Jadi Apa?


Jurusan apa itu? Kalau udah lulus, mau jadi apa?

Aku hanya bisa mengulum senyum mendengarnya. Bukan apa-apa, pasti pertanyaan itu akan muncul saat aku menyebut nama jurusan yang telah aku pilih. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa merangkai jawaban dengan kalimat sederhana yang sekiranya bisa dimengerti. Tidak mungkin kan, aku menjelaskan bahwa ilmu yang ku pelajari berasal dari bahasa yunani kuno. metrom yang artinya ukuran, sedangkan logos artinya ilmu. jadi metrologi merupakan ilmu tentang ukuran.  atau pengertian metrologi berdasarkan UU No 2 tahun 1981 tentang metrologi legal, metrologi adalah ilmu pengetahuan tentang ukur-mengukur secara luas. Bisa-bisa mereka malah kabur duluan hehe.

Namun kalimat sederhana yang kuucap selalu di balas dengan tatapan yang tak terdefinisikan. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa mengeluarkan jurus andalanku, Tersenyum. dan menyudahi percakapan rumit ini.

Berbicara mengenai jurusan yang aku pilih, pikiranku melompat 2 tahun silam, tepatnya tahun 2015. Sejak SMA aku memang telah membulatkan tekad untuk mengambil jurusan yang ada hubungannya dengan Fisika. Apapun pokoknya Fisika. Pilihanku ini lagi-lagi diherankan oleh teman sekelas, bahkan keluargapun juga ikut terheran. Sebayamu menganggap Fisika itu momok yang menakutkan lho. Ini malah mau ngambil jurusan itu. terus nantinya mau jadi apa?. Kali ini aku hanya bisa tersenyum, sambil merangkai kalimat sederhana untuk jawaban kegundahan mereka.

Sejujurnya bukan hanya mereka saja yang kebingungan. Akupun juga, saat di awal. Namun semuanya ku tepis, sebab aku memilihnya bukan ikut-ikutan temen atau berdasarkan hitung kancing. Namun, dengan pemikiran mendalam diselingi doa yang seringkali ku rapal. Dan jadilah, semua jurusan yang ku pilih berbau Fisika.

Kesabaranku harus di uji, ketika aku ditolak jalur SNMPTN di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Sedih, kecewa, terpukul sudah pasti. Yah bagaimana tidak, ditolak suatu Universitas dan jurusan yang diinginkan-inginkan sejak dulu? tentulah sedih. Seketika harapanku untuk bersekolah disana menciut, seiring dengan perkataan yang bertubi dilontar kepadaku.

Memangnya nilaimu bagus,  sehingga berani mendaftarkan ke sana?

Harusnya kamu tahu kemampuanmu seberapa. Yang daftar disana tentunya memiliki nilai yang bukan main bagusnya!.

Kau pun tahu pesaingmu itu ribuan, pintar lagi. kok berani-beraninya mendaftar?

Batinku meringis. harapan yang telah bersemi lama pun seketika langsung layu. Allah, apa iya aku memang tak pantas disana?. Apa iya aku harus mengubur mimpi yang selama ini ku rajut?. kali ini aku benar-benar menemui jalan buntu. Universitas di Jakarta yang kupilih sebagai cadangan rasanya tidak terlalu sreg. Meskipun aku memilihnya jurusan Pendidikan Fisika. Aku pun juga tidak berani lagi memilih Universitas impianku, Setelah ditolaknya. Ntah, ingin lanjut kemana aku ini setelah lulus. Segala gundah gulanaku ku curahkan lewat 2 raka’at shalat istikharah.

Aku hafal betul baris kalimat doa yang ku rapal kala itu.
Allah, Engkau pasti tahu bagaimana aku teramat ingin bersekolah di Universitas itu. Aku paham jika mungkin saja apa yang aku sukai belum tentu baik untukku menurut pandangan-Mu. Aku menyukai bidang Fisika. Aku menyukai bersekolah di Univesitas itu. tapi apa menurut-Mu bagus untukku?. Begitu pun sebaliknya. Mungkin aku tidak sreg dan tidak begitu menyukai Universitas di Jakarta. Namun, barangkali memang itu adalah pilihan yang tepat untukku? Atau memang ada pilihan-pilihan lain yang masih Kau sembunyikan?. Maka dari itu Ya Allah, pilihkan yang terbaik untukkuuntuk agamaku, untuk keluargaku, untuk masa depankusoal perkara ini ya Allah. Jika memang Universitas yang ku impikan adalah memang yang terbaik untukku. Maka biarkan Universitas itu mengundangku lewat caraMu tanpa aku bersusah payah untuk bersaing dengan puluhan ribu lainnya. Namun jika tidaktunjukkan aku jalan yang lain. Jalan mana yang harus ku tempuh...

Hingga tiba suatu hari yang membuatku begitu terpana. Salah satu jawaban atas doaku kini terjawab. Aku lulus PMDK (Jalur Undangan) Universitas impianku!. Aku diundang Universitas Impianku untuk bersekolah disitu tanpa susah-susah bersaing dengan puluhan ribu pesaing! Teriakku dalam hati. Sejujurnya aku sedikit tidak ingat jalur PMDK ini, mengingat jarak pengumuman yang terlalu lama dari yang lain. Duh, Gusti Indah sekali rencana-Mu.

Dengan teguh aku memilih pilihan yang telah Allah pilihkan. Meninggalkan tes mandiri Universitas Negeri yang terletak di wilayah Jakarta. Meskipun bukan jurusan Fisika. Tetapi jurusan Metrologi dan Instrumentasi. Tapi kala itu aku yakin betul, pasti ada sesuatu hal yang Allah siapkan untukku. Ada makna yang tentunya belum aku tahu.

Hingga keteguhanku seringkali tergoyahkan oleh perkataan yang bertubi ditunjukkan kepadaku, kali ini berbeda bunyi.

Jurusan apa itu? nanti habis lulus mau jadi apa?

Kenapa nggak ambil S1 sekalian? Tanggung kalau Cuma D3!

Loh kamu ambil D3, memangnya nanti mau jadi apa?

Aku hanya bisa tersenyum. kali ini aku tidak boleh goyah! Perkataan semacam itu akan terus selalu ada. Bagi mereka yang tidak tahu mula cerita dibaliknya. Bagi mereka yang tidak tahu peluh perjuangan mendapatkannya yang mereka bilang “Cuma” itu. Mau sampai kapanpun ridho manusia memang mustahil untuk diraih.

Hingga aku merasa terpana lagi. ketika aku menyadari ternyata eh ternyata Praktikum yang dijalankan di semester awal dilaksanakan di Laboratorium Fisika yang letaknya di Gedung jurusan Fisika!. Allah, Aku mencicipi laboratorium di jurusan yang ku impikan. Dan yang tak kalah mengejutkan adalah pembelajaran waktu kuliah di laksanakan di gedung MILAN (Mipa-Selatan) gedung kuliah bagi mahasiswa FMIPA, yang kini dipindahkan di wilayah MU(Mipa-Utara). Illahi, aku menempati gedung fakultas yang aku impikan dulu! Allah, jadi ini rencana-Mu?.

Aku akan menjalani peranku yang telah Allah gariskan untukku. Mahasiswi D3 Metrologi dan Instrumentasi. Aku tahu setiap orang memiliki peranan masing-masing dalam hidupnya. Ada yang habis Lulus SMA lanjut S1, Ada yang habis lulus SMA kerja dulu baru kuliah, Ada yang habis lulus SMA kuliah diploma dulu baru nanti S1, Ada juga yang habis lulus SMA terpaksa bekerja karena kesulitan biaya. Semua ada perannya masing-masing, tinggal kitanya mau ngejalaninnya gimana. Dijalani sambil ngegerutu? Atau dijalani dengan bersyukur dan ditempuh di jalan keridhoan-Nya? Semua balik lagi ke diri sendiri.

Soal perkataan yang seringkali melemahkan. Lebih baik jangan terlalu dipikir. Sebab, akan selamanya tetap begitu. Dan kitapun nggak akan bisa menyenangkan semua orang bukan?. Jangan cari ridho manusia ya. Cari ridho Allah saja!

Ridho semua manusia adalah tujuan yang tidak mungkin digapai. tidak ada jalan untuk selamat atas omongan orang. Maka lihatlah kebaikan hatimu peganglah dan biarkan manusia berbicara sekehendak mereka. -Imam Syafi'i

*Semoga sepenggal tulisan ini dapat bermanfaat ya. Ambil yang bagusnya, buang yang buruknya. Btw, Taqabbalallahu minna Wa Minkum, Shiyamana wa shiyamakum. Mohon Maaf Lahir dan batin. dan Selamat hari raya Idul Fitri 1438 H!


Yang masih terus belajar



Arum Melati Suci

0 komentar:

Posting Komentar